Cerita JJ Harlingen, Polisi Hindia Belanda yang Bertugas di Tanah Rejang (Bagian 1)

Juni 19, 2018
Berita Utama Sejarah 0   48 views 0
Justitie en politie in buitenlandse missies

Buku Justitie en politie in buitenlandse missies

Pada bulan Februari 1935, seorang inspektur polisi yang ambisius bernama J.J. Harlingen ditempatkan di Tjoeroep (Saat ini: Curup), Distrik Redjang, Bengkulu kala itu.

Dalam buku berjudul Justitie en Politie in Buitenlandse Missies dijelaskan, J.J. Harlingen dimandatkan menjadi komandan lokal polisi lapangan detasemen. Dia bertanggung jawab mengawasi semua orang Indonesia yang tinggal di sekitar barak polisi lapangan di Tjoeroep.

Ia dan timnya terus berpatroli menjaga ketertiban di daerah ini. Penduduk Tanah Redjang saat itu sekitar 62.000 jiwa, sudah termasuk minoritas Eropa sebanyak 180 jiwa, Tiongkok sekitar 1.700 dan Jawa yang jumlahnya tidak tercatat pasti. Sebagian besar orang Jawa di Redjang waktu adalah pekerja dan mantan pekerja perusahaan kopi.

Penduduk lokal tinggal di komunitas kecil (marga) dan dipimpin oleh kepala yang disebut pesirah. Sebagian besar penduduk marga itu hidup dari sektor pertanian yang mereka kelola sendiri (kopi dan padi), sebagian kecil adalah tenaga kerja perusahaan milik perusahaan orang Kolonial Hindia Belanda.

Sementara itu, orang asal Eropa banyak tinggal di Tjoeroep dan di perusahaan Kepahiang yang merupakan ibu kota Redjang kala itu. Tanah Redjang dikepalai Gubernur sipil D.H. van der Poel. Ia berkantor di Kepahiang yang jaraknya sekitar 25 kilometer dari Tjoeroep.

Harlingen yang merupakan komandan polisi juga wajib melapor kepada kepala polisi H.E. Wilten. Kepala polisi ini bermarkas di Bengkulu dan memiliki wilayah kontrol dari Tjoeroep, Moeara Anam dan Kroƫ (Krui, Lampung).

Hubungan antara polisi lapangan dan penduduk lokal di Tjoeroep itu tidak menguntungkan bagi JJ Harlingen. Pasalnya, polisi Hindia Belanda tidak dianggap sebagai penjaga keamanan, namun bagian dari tentara kolonial yang dianggap pembunuh dan predator. Kondisi ini digambarkan dalam buku Justitie en Politie in Buitenlandse Missies yang mengutip tulisan pada Gonggrijp (Tahun 1934, Halaman 1230; J.J.H).

Harlingen berupaya membangun kepercayaan warga di Redjang, bahwa polisi bertugas menjaga keamanan dan melayani laporan penduduk. Selama bertugas di Redjang selama kurang lebih 9 bulan, Harlingen berhasil memecahkan 76 kasus. Kasus yang terbesar yang paling berbekas pada diri Harlingen adalah saat mengusut sebuah kasus pembunuhan. Ia menulis perjalanan pengusutan kasus ini dengan judul ‘Een moordhol achter de Barisan atau ‘Sebuah lubang pembunuhan di belakang Bukit Barisan’ (J.J.H., 1935a, 1935b).

Bersambung….

Imbauan PUPRPKP RL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *